Minggu, 21 September 2008

lay out mugnya regita


tante tolong aku dibuatkan mugnya ya.. yang cakep seperti aku.. muah.. ini fotonya

nanti tulisan regita ramadania setyawan kalo ga muat di singkat aja ditulis REGITA aja boleh.

terus bacground gambar kartunnya kalo bisa minta gambar lain, misalnya winnie the pooh, spongsboob dll. oke tante makasih ya, maaf nih ngrepotin. oya kalo mau ambil gambar ini di klik kanan aja pada gambar ini, kemudian klik kiri save image as.. dan pastikan simpan di flashdisk ok. makasih tante muah...


Rabu, 10 September 2008

Hidup Adalah P e r b u a t a n



Sering melihat tayangan iklan ini wara-wiri di televisi setiap hari? Gile bener.. berapa duit aja tuh dibuang buat bikin iklan itu. Pernah mendengar berapa milyar dikeluarkan untuk biaya iklan itu? Milyaran! pasti cukup untuk buat ta'jilan buka puasa se kabupaten. Seperti 'mengiklankan' diri sendiri atau self selling gitu ya. Yah.. Walaupun sempat dibantah sebagi iklan jualan diri, tapi tetap saja pesan tersembunyi itu secara gamblang terbaca. Mungkin karena bangsa ini sedang menyambut hajatan politik luar biasa *pemilu dan pilpres*. Makanya ga heran kalau kita sering menjumpai "wajah-wajah antah berantah" tidak dikenal tau-tau minta didoakan jadi orang penting di negeri ini. Ya, seperti saat kita berhenti di pinggiran pasar Senen, "Dipilih! Dipilih! Seribu tiga! Seribu tiga! Sambil menarik baju menawarkan *sok akrab.


Habis gimana ya, seakan-akan negeri ini benar-benar ga peduli dengan bagaimana membedakan jabatan sebagai Amanah dan jabatan ladang mencari duit. Lagian kenapa juga banyak artis ngetop ikut-ikutan pindah jalur. Ujug-ujug dapet caleg nomor urut wahid.. Weleh-weleh.. Kasian rakyat kecil semakin bingung menentukan siapa pemimpinnya. Sebagai seorang bapak saya kebingungan bagaimana menjelaskan apa maksud fenomena ini kepada anak saya. Semakin frustasi karena saat ini jabatan yang seharusnya Amanah itu dikomersilkan. Tidak hanya artis, para pengusaha pun seolah tidak PD dengan profesinya sendiri. Sampai harus ada yang benar-benar Gila untuk mengejar jabatan itu. Hidup bukan hanya sekedar perbuatan, tapi juga harus diawali dengan niat suci, dan diakhiri dengan tanggung jawab.


Catatan foto: Regita sempat terekam kamera bapak saat terbengong-bengong ngliatin Meong pada sore hari yang cerah.. Langit biru.. Bright sunset.. Posenya pas banget, gak kalah gaya dengan iklan itu..

Stop Membunuh Nyamuk!

Sejak menghuni rumah "baru" (rumah dinas- baru ditempati). Kami memiliki musuh bebuyutan. Oleh bapak dijadikan hoby baru yaitu "bertarung" dengan mereka. Saking sengitnya pertarungan dalam semalam bapak bisa mengumpulkan jasad nyamuk hingga ratusan. Katanya itu jumlah yang sangat sedikit untuk pertempuran malam itu. Ya, rumah baru itu kami pilih karena berada persis diujung gang, berbatasan dengan sawah, dan saluran irigasi. Belakangan ini petani sawah itu membendung saluran irigasi untuk menyirami pohon terong dan tomat mereka. Sejak saat itu pula musuh-musuh kami berbondong-bondong menyerbu kedalam rumah.

Kami memilih untuk tidak menggunakan pestisida atau "senjata kimiawi" lainnya untuk bertarung dengan mereka. Kami tidak ingin seperti Amerika ketika melawan Iraq, yang membunuh membabi buta. Kami juga tidak ingin "mengalah" dengan meracuni kulit kami dengan lotion anti nyamuk. Kami lebih memilih dengan raket nyamuk atau tangan kosong saja, tapi raket nyamuk "lebih menyenangkan" dari pada yang lainnya. Bapak seakan menikmati setiap lawan yang menjerit terperangkap di dalam raket. Bahkan ibu menjuluki bapak sebagai phsycopat masquitos killer. Ibu akhirnya keberatan kalau bapak menggunakan senjata itu. Bapak membela diri dengan mengatakan Amerika lebih kejam ketika membantai warga Iraq dengan bom tandannya.

Pasalnya ibu pernah mendengar ustadz pengajian melarang kita membunuh hewan dengan cara "membakar". Karena hanya Alloh saja yang berhak membakar. Menggunakan raket penyetrum nyamuk sama saja dengan membakarnya bukan? Ah, ibu ini terlalu perhatian dengan nyamuk itu. Mungkin dia lupa bahwa malam-malam yang dia lalui dengan nyenyak itu tak lepas dari "penjagaan" bapak dengan raket nyamuknya.

Tapi nasihat ibu ternyata sempat terpikir dalam benak bapak, sebegitu kejamkah bapak selama ini? Apalagi saat itu ibu tengah mengandung. Wow semakin "jiper" saja bapak dengan karma dan kutukan para nyamuk bersaudara yang tidak terima. Bapak takut kalau-kalau janin yang dikandungnya terkena imbas dari pertarungan (berdarah)ini.

Sejak saat itu bapak beralih dengan tangan kosong atau memilih mengusir nyamuk-nyamuk itu dengan baik-baik. Bahkan bapak berakting seperti Nabi Sulaiman berbicara dengan kawanan nyamuk yang membandel tidak mau keluar kamar. Mungkin bapak sempat mengancam, bila tidak ingin diganggu jangan mengganggu.

9 bulan berlalu, ketabahan bapak tidak membuahkan hasil. Setiap bangun pagi sering kami dapati nyamuk-nyamuk kekenyangan sampai tidak mampu terbang lagi dengan perut gendut memerah. Nah saat itu ibu membolehkan bapak untuk me-Terminated-nya. Kata orang betawi, "elo jual guwe beli". Tembok kamar tidur menjadi saksi bisu betapa sengit pertarungan ini. Lukisan abstrak dari darah dan jasad nyamuk yang mengering di tembok seakan tidak menyurutkan semangat nyamuk-nyamuk itu menyerang kami.

Suasana malam semakin tegang terlebih ketika anak pertama kami sudah lahir, "tak kan kubiarkan secuilpun kulit halusmu terjamah nyamuk itu nak!" bapak menabuh genderang perang jilid dua. Ibu seakan tidak bisa berkata apa-apa melihat kebringasan bapak memberangus nyamuk-nyamuk malang itu. Bapak tidak ingat lagi dengan nasihat ibu tentang larangan membakar hewan. Semuanya tidak berarti selain menyelamatkan kulit Regita dari hisapan maut nyamuk itu. Tak terhitung lagi jumlah korban nyamuk. "Grafiti" darah di tembok kamar semakin bertambah, menambah kusam warna putih tembok kamar itu. Melukiskan betapa bapak menikmati saat-saat menggilas nyamuk gendut memerah ke tembok.

Sampai pada suatu waktu kegemaran ibu membaca majalah bayi (M&B) membawa kami kedalam suasana "gencatan senjata". Ibu menemukan sebuah kojong raksasa yang dapat menutupi kami bertiga. Tempat tidur kami yang ukuran king tidak menjadi masalah bagi kojong ajaib ini. Tingginya cukup untuk bapak dapat berdiri dengan lututnya menina bobokkan Regita. Bahkan bapak masih bisa sedikit meluruskan kaki panjangnya walaupun sedikit mengenai dinding kojong yang lembut. Kojong ini ajaib karena dapat berdiri sendiri tanpa penopang apapun. Satu-satunya alat penopang adalah kerangka kojong itu sendiri. Nah hebatnya kerangka itu terbuat dari baja elastis yang dapat ditekuk sampai 4 kali tekukan tanpa merusak strukturnya. Bapak teringat "mobil kapsul"-nya Burma dalam film Dragon Ball. Yah, mirip itulah.

Sejak saat itu selesailah sudah pertarungan itu, sejak saat itu pula kami katakan stop killing nyamuk! kami sadar mereka terpaksa menyerbu rumah kami karena rumah kamilah satu-satunya rumah bersahabat tanpa pestisida tanpa obat nyamuk. Sehingga mereka bisa sedikit mencuri darah kami. Kini nyamuk-nyamuk itu semakin frustasi melihat kami dari balik luar kojong dan mencari-cari celah untuk bisa masuk ke dalam. Bapak sangat puas dengan "benteng" itu dia sempat meledek serangga itu, persis seperti anak kecil. Kini raket nyamuk itu sudah jarang digunakan, baterei-nya sudah habis. Bapak sudah lama menyingkirkannya.

Selasa, 29 April 2008

Dhun-dhunan

Turun Tanah (Tedhak Siti)

Minggu kemarin tepat tanggal 27 September 2008, Regita sudah genap berumur 7 bulan, menurut Eyang, dulu Ibu juga dibuatkan acara serupa ketika berumur 7 bulan. Kali ini giliran Regita, eh.. ngomong-ngomong buat apa ya acara turun tanah itu? Nah.. kata Eyang kalo orang Jawa itu setiap bayi berumur 7 bulan sebaiknya dibuatkan acara turun tanah tujuannya biar si bayi kelak dapat mudah menyesuaikan dengan kehidupan duniawi yang akan dilaluinya. Banyak simbol-simbol di dalam acara tersebut yang menyiratkan arti bagaimana si bayi kelak dibekali agar dapat menghadapi jalan hidupnya. Wah… mulia ya tujuannya.. semoga Regita menjadi anak yang kuat dan mampu menjawab segala tantangan hidupnya kelak.. Amiin.. Oke.. ini foto waktu Regita di masukkan kedalam kurungan ayam.. maksudnya, sebagai perlambang semoga kelak dilindungi oleh Alloh SWT terus.

Jumat, 25 April 2008

regita dan Ibu yang pilek

Regita Ramadania Setyawan

Assalamu’alaikum.. haloo kenalkan nama panggilanku Gita, arti namaku yaitu merupakan gabungan dari nama orang tuaku. Re-itu artinya Reni (Ibuku) Git-itu artinya Sigit (Bapakku). Aku lahir pada bulan Ramadan tepatnya 15 ramadan makanya nama tengahku Ramadania, kata Bapak, pas Ibu dianter Bapak ke rumah sakit untuk melahirkan aku saat itu malam hari yang cahaya bulannya teraaang banget. Kalo Setyawan itu nama bapakku juga, kelak kalau aku punya dedek nama belakangnya pasti sama dengan nama belakangku. Oya, Aku dilahirkan dengan normal pada tanggal 27 September 2007 dengan berat 3.00 kg panjangku saat itu 49 centimeter. Aku adalah anak cucu pertama dari keluarga Drajat Soehardo (eyang akung-ku) dan cucu paling akhir dari keluarga Padmo Wiyono (Mbah Kung-ku) Semuanya sayang sama aku.. kata orang aku nggemesin karena aku ndut dan lucu.. Oya salam buat tante yayuk dan tante Intan yang lagi sibuk kuliah semoga cepet pinter yah..