Sejak menghuni rumah "baru" (rumah dinas- baru ditempati). Kami memiliki musuh bebuyutan. Oleh bapak dijadikan hoby baru yaitu "bertarung" dengan mereka. Saking sengitnya pertarungan dalam semalam bapak bisa mengumpulkan jasad nyamuk hingga ratusan. Katanya itu jumlah yang sangat sedikit untuk pertempuran malam itu. Ya, rumah baru itu kami pilih karena berada persis diujung gang, berbatasan dengan sawah, dan saluran irigasi. Belakangan ini petani sawah itu membendung saluran irigasi untuk menyirami pohon terong dan tomat mereka. Sejak saat itu pula musuh-musuh kami berbondong-bondong menyerbu kedalam rumah.
Kami memilih untuk tidak menggunakan pestisida atau "senjata kimiawi" lainnya untuk bertarung dengan mereka. Kami tidak ingin seperti Amerika ketika melawan Iraq, yang membunuh membabi buta. Kami juga tidak ingin "mengalah" dengan meracuni kulit kami dengan lotion anti nyamuk. Kami lebih memilih dengan raket nyamuk atau tangan kosong saja, tapi raket nyamuk "lebih menyenangkan" dari pada yang lainnya. Bapak seakan menikmati setiap lawan yang menjerit terperangkap di dalam raket. Bahkan ibu menjuluki bapak sebagai phsycopat masquitos killer. Ibu akhirnya keberatan kalau bapak menggunakan senjata itu. Bapak membela diri dengan mengatakan Amerika lebih kejam ketika membantai warga Iraq dengan bom tandannya.
Pasalnya ibu pernah mendengar ustadz pengajian melarang kita membunuh hewan dengan cara "membakar". Karena hanya Alloh saja yang berhak membakar. Menggunakan raket penyetrum nyamuk sama saja dengan membakarnya bukan? Ah, ibu ini terlalu perhatian dengan nyamuk itu. Mungkin dia lupa bahwa malam-malam yang dia lalui dengan nyenyak itu tak lepas dari "penjagaan" bapak dengan raket nyamuknya.
Tapi nasihat ibu ternyata sempat terpikir dalam benak bapak, sebegitu kejamkah bapak selama ini? Apalagi saat itu ibu tengah mengandung. Wow semakin "jiper" saja bapak dengan karma dan kutukan para nyamuk bersaudara yang tidak terima. Bapak takut kalau-kalau janin yang dikandungnya terkena imbas dari pertarungan (berdarah)ini.
Sejak saat itu bapak beralih dengan tangan kosong atau memilih mengusir nyamuk-nyamuk itu dengan baik-baik. Bahkan bapak berakting seperti Nabi Sulaiman berbicara dengan kawanan nyamuk yang membandel tidak mau keluar kamar. Mungkin bapak sempat mengancam, bila tidak ingin diganggu jangan mengganggu.
9 bulan berlalu, ketabahan bapak tidak membuahkan hasil. Setiap bangun pagi sering kami dapati nyamuk-nyamuk kekenyangan sampai tidak mampu terbang lagi dengan perut gendut memerah. Nah saat itu ibu membolehkan bapak untuk me-Terminated-nya. Kata orang betawi, "elo jual guwe beli". Tembok kamar tidur menjadi saksi bisu betapa sengit pertarungan ini. Lukisan abstrak dari darah dan jasad nyamuk yang mengering di tembok seakan tidak menyurutkan semangat nyamuk-nyamuk itu menyerang kami.
Suasana malam semakin tegang terlebih ketika anak pertama kami sudah lahir, "tak kan kubiarkan secuilpun kulit halusmu terjamah nyamuk itu nak!" bapak menabuh genderang perang jilid dua. Ibu seakan tidak bisa berkata apa-apa melihat kebringasan bapak memberangus nyamuk-nyamuk malang itu. Bapak tidak ingat lagi dengan nasihat ibu tentang larangan membakar hewan. Semuanya tidak berarti selain menyelamatkan kulit Regita dari hisapan maut nyamuk itu. Tak terhitung lagi jumlah korban nyamuk. "Grafiti" darah di tembok kamar semakin bertambah, menambah kusam warna putih tembok kamar itu. Melukiskan betapa bapak menikmati saat-saat menggilas nyamuk gendut memerah ke tembok.
Sampai pada suatu waktu kegemaran ibu membaca majalah bayi (M&B) membawa kami kedalam suasana "gencatan senjata". Ibu menemukan sebuah kojong raksasa yang dapat menutupi kami bertiga. Tempat tidur kami yang ukuran king tidak menjadi masalah bagi kojong ajaib ini. Tingginya cukup untuk bapak dapat berdiri dengan lututnya menina bobokkan Regita. Bahkan bapak masih bisa sedikit meluruskan kaki panjangnya walaupun sedikit mengenai dinding kojong yang lembut. Kojong ini ajaib karena dapat berdiri sendiri tanpa penopang apapun. Satu-satunya alat penopang adalah kerangka kojong itu sendiri. Nah hebatnya kerangka itu terbuat dari baja elastis yang dapat ditekuk sampai 4 kali tekukan tanpa merusak strukturnya. Bapak teringat "mobil kapsul"-nya Burma dalam film Dragon Ball. Yah, mirip itulah.
Sejak saat itu selesailah sudah pertarungan itu, sejak saat itu pula kami katakan stop killing nyamuk! kami sadar mereka terpaksa menyerbu rumah kami karena rumah kamilah satu-satunya rumah bersahabat tanpa pestisida tanpa obat nyamuk. Sehingga mereka bisa sedikit mencuri darah kami. Kini nyamuk-nyamuk itu semakin frustasi melihat kami dari balik luar kojong dan mencari-cari celah untuk bisa masuk ke dalam. Bapak sangat puas dengan "benteng" itu dia sempat meledek serangga itu, persis seperti anak kecil. Kini raket nyamuk itu sudah jarang digunakan, baterei-nya sudah habis. Bapak sudah lama menyingkirkannya.